Langsung ke konten utama

TUGAS FINAL TEORI KOMUNIKASI


NAMA : DIMAS BILAL M.
NIM : C1D118020
KELAS : ILMU KOMNIKASI GENAP (B)


ANALISIS TEORI-TEORI KOMUNIKASI

1.      TEORI PENETRASI SOSIAL
a)      Pengertian
Penetrasi Sosial adalah proses ikatan yang menggerakkan sebuah hubungan dari yang superfisial menjadi lebih intim. Teori ini berfokus pada hubungan interpersonal yang dinamis dan dapat berkembang dari yang tidak intim menjadi lebih intim maupun sebaliknya. Hubungan interpersonal sesungguhnya adalah sesuatu yang dapat diprediksi.

b)     Sejarah
Ahli psikologi yaitu Irwin Altman dan Dalmas A. Taylor mengembangkan teori penetrasi sosial untuk membantu kita memahami bagaimana self-disclosure atau pengungkapan diri memfasilitasi kedekatan hubungan dan tahapan-tahapan yang harus dilalui masing-masing individu agar dapat berjalan sebagaimana mereka bergerak dari derajat kedekatan yang minim ke hubungan yang lebih dekat lagi.
c)      Asumsi
1)      Hubungan-hubungan mengalami perkembangan kedekatan. Saat pertama kali bertemu seseorang,kita akan memiliki penilaian terhadap orang tersebut dan berinteraksi mengenai topik-topik yang ringan. Perkembangan hubungan cenderung maju dari titik yang tidak intim menjadi intim,tetapi terdapat juga hubungan yang tidak terletak di dua titik.
2)      Perkembangan hubungan sistematis dan dapat diprediksi karena walaupun komunikasi bersifat dinamis,tetapi terdapat pola-pola yang dapay kita prediksi.
3)      Perkembangan hubungan mencakup penarikan diri dan disolusi. Perkembangan hubungan tidak selalu maju tetapi juga mengalami pemunduran karena salah satu dari mereka menarik diri.
4)      Pembukaan diri adalah inti dari perkembangan hubungan. Pembukaan diri adalah sikap kita mau terbuka dan mengatakan informasi penting tentang diri kita terhadap orang lain.
d)     Tahapan Proses Penetrasi Sosial
1)      Tahap orientasi. Masa orientasi dapat disebut masa pengenalan dan terjadi pada tingkat publik. Saat dua orang berinteraksi mereka akan membuka diri sedikit demi sedikit dengan tetap memperhatikan nilai-nila yang ada di masyarakat dan cenderung menyimpan rahasia serta memfilter pesan yang akan ia sampaikan.
2)      Pertukaran penjajakan afektif. terjadi saat dua orang mulai menunjukkan informasi-informasi tentang dirinya meskipun masih terbatas dan masih berhati-hati.
3)      Pertukaran afektif. Saat memasuki tahap pertukaran afektif dapat ditandai dengan munculnya rasa nyaman,interaksi tanpa beban dan pengunaan idiom personal.
4)      Pertukaran stabil. Tahap ini adalah tahap keterbukaan total,baik terbuka dalam pemikiran,perilaku dan perasaan. Saat memasuki tahap ini,dua orang telah saling mengerti dan semakin kecil tingkat ambiguitas. Hal-hal kecil menjadi sesuatu yang tidak penting sehingga mereka dapat menghindari konflik.

2.      TEORI AGENDA SETTING
a)      Pengertian
Teori Penentuan Agenda (bahasa Inggris: Agenda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

b)     Pencetus Teori
Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972.
c)      Asusmsi dasar
Media bukan mempengaruhi pikiran masyarakat dengan memberitahu apa yang mereka pikirkan dan apa saja ide atau nilai yang mereka miliki, namun memberi tahu hal dan isu apa yang harus dipikirkan. Masyarakat luas cenderung menilai bahwa apa-apa yang disampaikan melalui media massa adalah hal yang memang layak untuk dijadikan isu bersama dan menjadi cakupan ranah publik.
Dengan begitu, masyarakat pun menilai apa yang dianggap penting oleh media adalah hal yang penting juga dan memang harus dipikirkan atau minimal mempengaruhi persepsi mereka terhadap hal tersebut.

3.      TEORI DRAMATURGI
a)      Sejarah Teori Dramaturgi
Dramaturgi, menurut Kathleen M. German melalui Encyclopedia of Communication Theory (2009 : 320), disebut juga dengan dramatisme, yaitu suatu pendekatan yang digunakan untuk memahami penggunaan simbol-simbol dalam dunia sosial. Pendekatan dramatisme yang dikenalkan pertama kali oleh Kenneth Burke pada awal tahun 1950an menyatakan bahwa interaksi manusia dapat digambarkan sebagai sebuah drama. Menurutnya, hubungan antara kehidupan dan teater bersifat literal bukan metafora.
Dramatisme kemudian berkembang sebagai suatu sarana untuk memahami kompleksitas penggunaan simbol-simbol manusia dalam komunikasi.
Kemudian pada tahun 1959, melalui bukunya bertajuk The Presentation of Self in Everyday Life, Erving Goffman mengembangkan suatu teori yang menggambarkan interaksi sosial sebagai sebuah teater. Teori dramaturgi terinspirasi konsep dasar interaksi sosial yang dikemukakan oleh George Herbert Mead dan tentunya dipengaruhi oleh pendekatan dramatisme yang dikemukakan oleh gurunya yaitu Kenneth Burke.
b)     Asumsi Dasar
Erving Goffman melalui teori dramaturgi mencoba untuk membandingkan dunia manusia dengan dunia teater serta menggambarkan perbandingan antara manusia di kehidupan nyata dengan para pemain atau pemeran di atas panggung.
 Teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman ini mengasumsikan bahwa identitas disajikan kepada suatu khalayak pada suatu kejadian tertentu dan di tempat tertentu.
Aspek penting dalam teori dramaturgi dalam konteks komunikasi adalah konsep khalayak dan hubungan antara individu dengan khalayak dalam suatu waktu dan tempat tertentu

c)      Depan Panggung atau Front Stage
ketika kita berinteraksi dengan orang lain maka secara sengaja kita akan menampilkan diri kita sebagaimana yang kita inginkan.
Kemudian, hal-hal yang dapat kita gunakan untuk menampilkan diri kita di hadapan orang lain disebut dengan front yang terdiri dari panggung, penampilan, dan gaya bertingkah-laku.
d)     Belakang Panggung atau Back Stage
Belakang panggung adalah tempat dimana penampil hadir namun tanpa kehadiran khalayak yang menontonnya. Di belakang panggung pula, seorang penampil dapat keluar dari karakter aslinya tanpa merasa takut dapat merusak penampilannya.

4.      PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN
a)      Sejarah
Pada tahun 1975, Charles Berger dan Richard Calabrese mengembangkan teori pengurangan ketidakpastian untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian antara  dua orang asing yang terlibat dalam percakapan pertamanya.
Dalam merumuskan teori pengurangan ketidakpastian, Charles Berger dan Richard Calabrese dipengaruhi oleh beberapa teoris lainnya seperti Leon Festinger (pencetus teori disonansi kognitif dan teori perbandingan sosial), Fritz Heider (pencetus teori-teori konsistensi kognitif), serta Claude E. Shannon dan Warren Weaver (pencetus teori informasi). Teori disonansi kognitif menjelaskan bagaimana sebuah keseimbangan diantara kognisi-kognisi dapat berdampak pada seorang individu.
b)     Asumsi Dasar
Menurut L.H Turner dan R. West (2010), terdapat tujuh asumsi terkait dengan teori pengurangan ketidakpastian, yaitu :
1)      Orang mengalami ketidakpastian dalam konteks interpersonal.
2)      Ketidakpastian adalah sebuah keadaan yang tidak menyenangkan sehingga menghasilkan tekanan kognitif.
3)      Ketika orang asing saling bertemu maka perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau untuk menambah kemampuan untuk memprediksi.
4)      Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui beberapa tahapan.
5)      Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah sarana utama bagi pengurangan ketidakpastian.
6)      Jumlah dan sifat informasi yang dibagi oleh masing-masing orang dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu.
7)      Adalah mungkin untuk memprediksi perilaku orang lain dalam sebuah mode hukum.
c)      Konsep
1)      Pengertian Ketidakpastian
Menurut Shannon dan Weaver, ketidakpastian ada atau terjadi dalam sebuah situasi ketika jumlah kemungkinan alternatiff yang tinggi sama dengan kemungkinan terjadinya.
Charles Berger dan Richard Calabrese mereka mendefinisikan ketidakpastian sebagai jumlah berbagai alternatif yang mungkin dimiliki oleh masing-masing interaktan. Semakin besar tingkat ketidakpastian yang ada dalam suatu situasi maka akan semakin kecil kesempatan bagi setiap individu untuk dapat memprediksi perilaku dan keterjadian.

2)      Jenis-jenis Ketidakpastian 
·         Ketidakpastian kognitif , berkaitan dengan tingkat ketidak pastian yang terkait dengan kognisi berupa kepercayaan dan sikap satu sama lain dalam situasi tersebut.
·         Ketidak pastian perilaku, berkaitan dengan sejauh mana perilaku dapat diprediksi dalam situasi tertentu.
3)      Proses Pengurangan Ketidakpastian
·         Pengurangan ketidakpastian proaktif . Pengurangan ketidakpastian proaktif terjadi dengan membuat prediksi kemungkinan tindakan alternative orang lain yang mungkin diambil adalah perencanaan komunikasi strategis sebelum interaksi.
·         Pengurangan ketidakpastian retroaktif . Penurunan ketidakpastian retroaktif adalah proses menganalisis situasi pasca interaksi yang mengacu pada membuat penjelasan untuk perilaku orang lain dan menafsirkan arti pilihan perilaku.
4)      Tahapan Perkembangan Hubungan
Charles Berger dan Richard Calabrese membagi interaksi awal ke dalam tiga tahapan, yaitu
·         Tahap masuk (the entry stage). Pada tahapan ini masing-masing interaktan menggunakan norma-norma perilaku.
·         Tahap pribadi (the personal stage).
·         Tahap keluar (the exit stage).Pada tahapan ini salah satu pihak akan memutuskan pakah ia akan melanjutkan hubungan atau tidak. Jika tidak ditemui kesukaan bersama, maka pihak lain juga akan memilih untuk tidak melanjutkan hubungan.

5.      SPIRAL KEHENINGAN
a)      Pengertian
Dalam ilmu komunikasi, teori keheningan adalah salah satu dari teori komunikasi massa di mana seseorang memiliki opini dari berbagai isu namun terdapat keraguan dan ketakutan untuk memberikan opininya karena merasa terisolasi, sehingga opini tidak bersifat terbuka alias tertutup.
b)     Sejarah Teori Keheningan
Teori spiral keheingan ini telah dikembangkan oleh Elisabeth Noelle Neumann (1973, 1980) yang merupakan seorang sosiolog, pakar politik, dan jurnalis Nazi Jerman yang membenci Yahudi dan mendukung Hitler. Dalam pendapatnya, Neumman menjelaskan bahwa teori spiral keheningan merupakan upaya untuk menjelaskan opini public dibentuk dan teori ini hanya befokus pada opini publik semata.
Teori ini didapatkan dan terinspirasi ketika ia berada di lingkungan Nazi pada masa itu, yang mana banyak orang yang merasa terisolasi opini-opininya ketika ia mereka ingin mengemukakan pendapat mereka. Sehingga tidak salah jika banyak orang yang mengalami Spiral Keheningan ini mencari dukungan melalui media massa.
Hal itu terjadi karena media massa merupakan penyambung lidah masyarakat secara luas dan umum. Ditambah lagi bahwa media merupakan suatu sarana komunikasi yang kebanyakan berpihak pada kiri.

c)      Asumsi Dasar
Dalam teori spiral keheningan, tidak selalu mengalami keminoritasan, teori tersebut bisa saja terjadi mayoritas ketika ia mendapat dukungan dari media yang mana media menonjolkan sudut pandang tertentu dengan kesesuaian opini pada suatu topik
Teori spiral keheningan ini pada hakikatnya tergantung pada opini yang dipikirkan dan diharapkan dari seseorang. Teori ini pun hanya terdapat dua asumsi yaitu opini yang diterima atau opini yang tidak diterima oleh masyarakat. Dan asumsi yang kedua yaitu menyesuaikan diri dengan persepsi yang ada pada suatu opini.

                 BERIKUT VIDEO PENJELASAN MATERI :


Komentar

Postingan populer dari blog ini